Ini Resiko Kabur dari Pinjaman Online, Jangan Sampai Gagal Bayar

  • Whatsapp
Resiko Kabur dari Pinjaman Online

Resiko Kabur dari Pinjaman Online-Pinjol atau pinjaman online saat ini memang sangat menjamur di Indonesia, banyak masyarakat yang menggunakannya sebagai dana talangan sementara. Namun, karena bunga yang tinggi tidak sedikit masyarakat yang gagal bayar dan kabur dari tagihan.

Aplikasi pinjaman online dibagi menjadi dua, yaitu pinjaman diawasi OJK dan tidak diawasi ojk. Rata-rata semuanya dapat cair secara cepat, yang membedakan biasanya pada bunga. Jumlah yang besar terdapat pada pinjaman online tidak diawasi ojk.

Berikut adalah resiko kabur dari pinjaman online dapat diterima nasabah:

1. Mendapat “Teror” Berupa SMS dan Telepon

mendapat teror sms

Resiko yang pertama dan sudah pasti diterima nasabah adalah mendapat “teror” berupa telepon dan sms dari pihak fintech. Biasanya tagihan berupa telepon dan sms ini dilakukan hampir setiap hari, termasuk diakhir pekan. Tentunya hal ini dilakukan agar nasabah membayar lebih cepat dan tepat waktu.

Pada beberapa fintech, tagihan melalui telpon dan sms seperti ini dilakukan apabila pembayaran telat 1 hari sejak tanggal jatuh tempo. Jadi jika nasabah jatuh tempo tagihan pada tanggal 1 dan telat membayar, maka pada tanggal 2 pihak fintech sudah melakukan tagihan.

2. Rumah Dikunjungi Debt Collector

Resiko kabur dari pinjaman online yang kedua adalah rumah akan dikunjungi oleh debt collector atau penagih. Biasanya, hal ini terjadi apabila keterlambatan sudah jauh melampaui tanggal jatuh tempo yang telah ditentukan. Parahnya, selain rumah, debt collector tidak akan segan-segan untuk mendatangi tempat kerja atau kantor nasabah.

Ini tentunya menjadi hal yang besar, karena selain membuat malu karena banyak orang menjadi tahu nasabah gagal bayar, jika sudah mendatangi kantor nasabah bisa mendapat masalah di perusahaan karena banyak perusahaan yang menganggap kedatangan kolektor ke kantor cukup mengganggu karyawan yang lain.

3. Masuk Daftar Hitam atau Blacklist

Seluruh pinjaman akan dilaporkan oleh perusahaan fintech kepada OJK melalui SLIK (Sistem Layanan Informasi Keuangan) OJK atau BI Checking. Dalam SLIK OJK tersebut terdapat data berupa jumlah pinjaman, tanggal jatuh tempo, status pinjaman, termasuk semua pinjaman yang tertunggak. Dan SLIK OJK digunakan oleh semua lembaga pembiayaan untuk mengevaluasi pinjaman.

Jadi, ketika nasabah terjadi gagal bayar atau tunggakan maka akan masuk ke catatan SLIK OJK tersebut. Resiko yang diterima jika terjadi hal tersebut adalah nasabah akan lebih susah mengajukan pinjaman di tempat lain, seperti KPR, kredit kendaraan, pengajuan kartu kredit, atau pinjaman lainnya.

4. Penyitaan Barang

Untuk resiko yang satu ini biasanya dilakukan oleh bank dan leasing. Lalu bagaimana dengan pinjaman online? Biasanya pinjaman online memberlakukan sistem kredit tanpa agunan, sehingga penyitaan jarang terjadi. Namun jika terjadi ancaman penyitaan barang, nasabah bisa mengecek kembali perjanjian kredit untuk memastikan syarat dan ketentuan yang berlaku.

5. Hutang Menjadi Lebih Besar

resiko kabur pinjol hutang menjadi besar

Jika terjadi keterlambatan, hutang akan menjadi lebih besar. Mengapa? Hal tersebut terjadi karena denda yang diberikan pada setiap keterlambatan yang terjadi. Biasanya denda yang diberikan adalah 0,8% per hari. Jadi silakan hitung sendiri berapa jumlah pinjaman yang harus dikembalikan jika terus menerus menunggak.

Namun jangan khawatir, untuk pinjaman yang berada dibawah naungan OJK, sudah ada aturan mengenai hal ini. Ditetapkan melalui AFPI atau asosiasi fintech bahwa seluruh total pinjaman, termasuk jumlah pinjaman, biaya denda, biaya admin, dan bunga adalah maksimum sebesar 100%. Jadi misalkan nasabah meminjam 1 juta maka maksimal yang harus dibayarkan adalah 2 juta rupiah.

6. Semua Kontak Dihubungi oleh Kolektor

Tidak hanya nasabah yang didatangi oleh kolektor, namun tidak jarang kontak yang ada di ponsel nasabah juga dihubungi oleh kolektor. Biasanya hal ini terjadi jika nasabah tidak bisa dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya, tidak punya itikad baik untuk membayar, serta tidak merespon upaya penagihan.

Biasanya para kolektor mendapatkan nomor dari “nomor darurat” yang harus dituliskan pada saat pengajuan. Biasanya yang sering ditulis adalah nomor kakak, sahabat, teman atau orang tua. Tentunya hal tersebut sangat mengganggu dan tidak jarang hubungan nasabah dengan orang yang menjadi “kontak darurat” tersebut renggang karena hal ini.

Itulah beberapa resiko kabur dari pinjaman online yang sering dialami oleh nasabah. Sebaiknya jika tidak terlalu penting atau mendesak, jangan melakukan pinjaman. Namun jika memang dalam kondisi darurat ada baiknya  untuk menghitung terlebih dahulu biaya yang harus dikeluarkan setiap bulan guna menghindari keterlambatan, dan biasakan membayar terlebih dahulu ketika menerima uang.

Related posts